Pengeran Diponegoro dan Kyai Mojo pada tahun 1830 telah dibuang pemerintah Hindia Belanda ketika itu ke Tondano Sulawesi Utara, sekitar 63 orang pengikutnya, mereka inilah yang menjadi turunan asli Jawa Tondano, karena telah kawin-mawin jumlah turunan Jaton kini sudah lebih dari 100.000 jiwa. Jumlah masyarakat Jaton kini tidak saja terpusat di Sekitar Danau Tondano, akan tetapi tersebar di Gorontalo, bahkan di Makassar dan ada pula yang bertransmigrasi ke kawasan lain diluar Sulawesi. Danau Tondano merupakan saksi bisu, dimana Pemerintah Hindia Belanda tidaklah mempersiapkan lahan pemukiman maupun lahan usaha bagi orang-orang Jawa pengikut Kyai Mojo dan Pangeran Diponegoro. Penghidupan dan kehidupan mereka yang terbuang sungguh sangat menyedihkan. Namun demikian mereka, dengan diam-diam membawa benih-benih tanaman, seperti padi dan jagung, yang di kemudian hari dapat mereka tanam dan menghasilkan untuk makanan sehari-hari mereka.
Menurut cerita Kekek saya yang bernama Gafuran Kariban yang dilahirkan di Tondano pada tahun 1889, kepada orangtua saya yang bernama Abdul Hamid Gafuran Kariban yang dilahirkan pada tahun 1921 di Yosonegoro, bahwa mereka yang dibuang semuanya laki-laki, sehingga dalam satu dua tahun, barulah mereka mempunyai hubungan dengan penduduk setempat dan mengenal wanita. Pengikut Kyai Mojo saat itu berjumlah 37 orang dan pengikut Pangeran Diponegoro 26 orang. Selanjutnya Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Makassar dan tidak ikuti oleh para pengikutnya, karena dilarang Pemerintah Hindia Belanda, hal ini dimaksudkan agar mereka tidak mengadakan pemberontakan di tempat baru. Ketika Pangeran Diponegoro dipindah ke Makassar, mereka tetap tinggal bersama-sama pengikut Kyai Mojo.
Jumat, 02 November 2007
Langganan:
Komentar (Atom)